Citra DPR kita lagi-lagi tercoreng. Masih santer terdengar pemberitaan-pemberitaan di media media menyikapi keberangkatan Badan Kehormatan (BK) DPR ke Yunani hanya untuk belajar etika. Rencana keberangkatan ini menuai banyak kecaman baik dari masyarakat sendiri maupun dari dalam DPR. Rencana ini semakin menjadi mimpi buruk karena acara 'plesir' ini sudah tidak bisa ditunda ataupun dicancel lagi.
Nilai anggaran yang diperlukan untuk berangkat disediakan sekitar Rp 2,2 miliar, dana ini sudah termasuk uang saku dan juga tiket 2 staf ahli yang diajak. Mereka akan berada disana selama kurang lebih satu minggu.
Jika kita renungkan sejenak, apa ia sih mereka benar-benar belajar etika disana?pertanyaan ini mungkin hinggap di benak kita yang membuat kita bertanya tanya. Bagaimana jika mereka disana hanya untuk berlibur melepas penat dari rutinitas 'absen' dan 'tidur' di dalam gedung DPR semata?Bagaimana jika pelajaran etika tersebut hanya sebagai angin lalu saja?
Ya, lagi-lagi kita harus terpaksa berusaha mempercayai mereka, apalagi mereka juga menganggap kritikan-kritikan pedas dari semua kalangan sebagai angin yang bertiup di kuping mereka, dan sama sekali tidak menghiraukannya. Hal ini juga menjadi semakin terealisasi ketika pimpinan DPR sama sekali tidak melarang anggotanya untuk pergi belajar etika ke Yunani. Padahal Sekali pimpinan DPR melarang, keberangkatan anggota BK ke Yunani pun bisa langsung dibatalkan seperti yang pernah dilakukan Wakil Ketua DPR Pramono Anung yang melarang anggota Komisi V pergi ke Turki.
Sebenarnya seberapa penting sih pelajaran etika politik itu dikalangan anggota DPR?. Sering kita mendengar pemberitaan media pada saat rapat anggota DPR tidak diakhiri dengan suatu keputusan bulat, namun yang terjadi sebaliknya, saling memaki, mengumpat, bahkan adu jotos pun tak terelakkan. Apakah itu yang dinamakan perwakilan rakyat yang dibayar untuk mengedepankan kepentingan rakyat tetapi hanya mementingkan ke-egoan mereka sendiri dengan cara seperti itu? Pernahkah berfikir bahwa hal itu tidak jauh bedanya dengan anak-anak?
Saya pernah mendengar, bukankah suatu kebanggaan jika Indonesia mengirimkan DPRnya untuk melakukan studi ke negara lain dan dikenal oleh banyak negara. Saya berfikir, "hah?apa yang harus dibanggakan?bukannya itu malah menjadikan rapor merah bagi kita terhadap penilaian bangsa-bangsa lain?". Memang benar kita akan dikenal oleh banyak negara bukan karena kehebatan kita, namun karena bobroknya mental dan sikap para pejabat negara kita ini.
Sebagai warga negara yang baik, saya hanya bisa berharap dan mendoakan semoga anggota Badan Kehormatan (BK) kita ini pulang dengan selamat, dan bisa mengaplikasikan apa yang mereka pelajari di negara Yunani, bukan hanya cerita yang kita harapkan, namun representasi hasil dari ilmu yang mereka dapatkan disana. Semoga setelah ini semua, DPR menjadi lebih pro rakyat, dengan mementingkan aspirasi dan keluhan dari masyarakat agar pencitraan DPR dimata rakyat bisa kembali bersinar serta bisa mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap para pemerintah negara yang cenderung pudar akhir-akhir ini. Sekian dan terima kasih.



No comments:
Post a Comment