Friday, November 12, 2010

BEHIND MERAPI ERUPTION

Kembali, saya berada di cangkringan untuk mengabadikan merapi. Yang berbeda adalah saya

mengajak teman lama yang juga ikut untuk mengetahui kondisi sekaligus melihat merapi dari jarak dekat. Hari ini merapi terlihat tampak 'ramah' dengan dibubuhi asap yang keluar membumbung vertikal berbentuk corong. Mulai dari timur jembatan kali kuning sampai ke daerah Tlogo putri pun tak luput dari tempat hunting foto kali ini. Apes, itulah yang terjadi oleh teman saya, sewaktu motornya ditinggal sebentar untuk mengambil gambar tiba-tiba ban terlihat kempes. Pikiran saya bertanya-tanya, mana ada bengkel atau tambal ban yang buka didaerah ini dan pada kondisi sekitar yang tampak sepi karena ditinggal untuk mengungsi. Malang sekali, baru setelah kurang lebih 3km kami menemukan bengkel yang buka.

Sambil menunggu motor teman saya yang 'terluka' dengan 3 'tusukan' dan sedang 'dirawat' kami pun berinisiatif meninggalkan sebentar dan menuju ke lokasi daerah terkenanya awan panas. Sesampainya disana..we're so amazed. Daerah yang dulunya perkampungan dengan banyak rumah-rumah warga di sekitar berubah menjadi lapangan datar berwarna abu-abu putih. Saat kami datang masih terlihat ada api yang menyala, kami kira itu adalah efek dari awan panas yang masih tersisa. Namun  api tersebut berasal dari gas elpiji yang meledak dan kami tidak berani untuk mendekat lebih jauh. 

Masih terasa hangat saat kaki kami menginjak abu yang telah bercampur dengan material vulkanik pada saat itu. Daerah yang berjarak kurang lebih 1 km dari kali gendol ini tersapu awan panas yang meluncur 17km dari puncak merapi. Banyak yang menjadi korban karena luncuran pada 4-5 November ini. Mereka tampaknya kurang waspada dan tidak menyangka bahwa perkampungan mereka akan terkena dampak dari letusan merapi. Sebelum kejadian ini, zona aman telah diperluas menjadi 15 km dari puncak merapi, namun karena kecanggihan alat juga tak mampu untuk mendeteksi gejala-gejala alam dan tanda-tanda yang akan dikeluarkan, akhirnya takdirpun yang akan berkata. 
Semua ini datangnya dari Allah semata, berupa ujian dan cobaan yang diberikan bertubi-tubi agar kita sadar dan tetap harus sabar menerima semua ini. Banyak keluarga dan rekan-rekan yang menjadi korban, namun semangat para relawan yang membantu dapat mengurangi beban mereka yang tertahan. Jogja 13 November. Rizky Cahya Darmawan.

Sunday, November 7, 2010

Merapi 8 November

Setelah nekat naik ke cangkringan tanggal 6 November dengan kondisi merapi yang tertutup mendung, menambah ngeri suasana, karena sewaktu-waktu awan panas yang bahasa jawanya wedhus gembel bisa muncul sewaktu waktu dan kapan saja dari balik mendung tersebut. 

Menunggu-dan menunggu, tanggal 7 November mendung pun kembali menyelimuti Merapi yang terkesan menutup diri. Hari itu suasana siang hari cukup panik, ada isu-isu dari media televisi kalau merapi bisa meletus dan awan panasnya sampai jarak 60km. Hal ini bertambah ngeri setelah dari rumah saya terdengar gemuruh-gemuruh yang semakin kencang. Warga sekitar langsung mengungsi ke arah selatan dan lain-lain, namun saya mencoba untuk tetap tenang dan mencoba meyakinkan ibu yang semakin panik karena tetangga sudah kosong semua. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, kami pun berjaga-jaga malamnya.


Tanggal 8 November, jam 4 pagi saya gantian jaga,dengan memantau dari percakapan HT via internet yang dilaporkan oleh petugas-petugas yang ada di pos saya bisa mengetahui dan tahu keadaan posisi Merapi saat itu. Jam 5.30 saya mendengar bahwa merapi terlihat jelas didampingi awan vulkanik dengan posisi horizontal agak mengarah ke barat daya. Sontak saya langsung menuju ke TKP. Minimnya penjagaan dari petugas pada jam tersebut membuat saya dapt mudah masuk leluasa ke Cangkringan. Subhanallah, view merapi sangat indah hari itu, tetapi tidak untuk sapi-sapi yang berada di pengungsian hewan ternak.

Mereka berteriak meminta makan karena berhari2 tidak ada yang mengurusnya. Saya pun bertanya kepada bapak2 yang ada dekat kandang tersebut. Saya, 'Ko nggak dikasih makan pak sapi-sapinya?' , Bapak tersebut 'Mau dikasih makan bagaimana orang-orangnya semua ngungsi'.Memang miris sekali waktu itu melohat kondisi sapi yang ditelantarkan begitu saja di 10km dari puncak merapi.

Saya pun mencoba mencari momen-momen yang tidak semua orang bisa berada di posisi saya karena berada di posisi zona berbahaya didalam radius 10km dari puncak merapi. Inilah link gambar-gambar dari facebook saya yang saya dapat tanggal 8November, hari ini.

Saturday, November 6, 2010

Bencana Di Negeriku

Pemberitaan merapi di media massa, maupun elektronik marak terdengar bahkan menjadi trending topik di jejaring sosial. Berita erupsi merapi yang dahsyat dan pengungsi yang terus bertambah ini telah menyedot perhatian warga masyarakat dan menggerakkan hati nurani kita. Semua penjuru berbondong-bondong 'berebut' mengulurkan tangan membantu saudara-saudara setenah air ini.

Berita di merapi ini ternyata lebih banyak di ekspose dibandingkan berita bencana di daerah lain, seperti gempa dan tsunami di Mentawai serta banjir di Wasior. Seakan-akan hanya korban bencana merapi yang membutuhkan bantuan. Hal ini bisa juga terjadi karena akses menuju ke Mentawai memang terbilang sedikit sulit, dan kadang harus menunggu waktu yang tepat untuk melewati laut dimana cuacanya tidak menentu. Sempat pula diberitakan tim reporter dari sebuah stasiun tivi hilang setelah sebelumnya dikabarkan akan meliput bencana di Mentawai dan hilang contact setelah berada di laut.

Kembali lagi ke merapi, adakah timbul pertanyaan diantara kita bahwa berita di televisi sedikit terlalu berlebihan ketika meliput dan kadang malah tak jarang menimbulkan kepanikan? Ya, seperti itulah yang ada di diberita, mereka juga kadang memberikan ifo yang salah, misal saja penyebutan nama tempat seperti  Bronggang, Cangkringan, Magelang Jawa Tengah padahal desa ini terletak di wilayah Yogyakarta. Ada lagi yang membuat warga sedikit kesal karena reporter melebih-lebihkan kejadian yang ada, misalnya waktu gunung merapi kembali erupsi, mengeluarkan awan panas yang hanya berjarak kurang dari 10km, diberitakan awan panas mencapai jarak 20km. Hal ini cukup membuktikan bahwa kadang penyampaian dan pemberian info akurat yang seharusnya didapat masyarakat berdasarkan fakta yang ada justru membuat warga panik menyelamatkan diri mereka masing-masing.

Terlepas dari itu semua kita juga harus bersyukur karena jika tidak ada mereka (reporter) maka kita juga tidak akan mengetahui berita-berita terupdate yang harus diketahui masyarakat. 

Apakah pemberitaan di media yang mayoritas mengabarkan tentang bencana merapi ini hanya sebagai sarana pengalih berita-berita dan kabar politik lainnya? Seperti kabar anggota DPR yang sedang plesir dan bersenang senang sementara warganya berusaha bangkit dari keterpurukan karena bencana yang terus melanda negeri ini. Sebenarnya apa yang mereka pikirkan?keegoisanlah yang berada dalam diri mereka. 

Sekali lagi saya hanya berharap agar kejadian kejadian ini cepat berlalu dan disikapi secara bijak, ambil sisi positif dan hikmah dibalik semua ini, jangan hanya mengeluh negeri kita terus didera bencana yang tak berujung. Mungkin ini cobaan yang diberikan sekaligus ujian apakah kejadian ini dapat membuat masyarakat Indonesia mengesampingkan keegoan, dan bersama-sama menyingsikan lengan baju membantu saudara-saudara mereka, semoga saja.