mengajak teman lama yang juga ikut untuk mengetahui kondisi sekaligus melihat merapi dari jarak dekat. Hari ini merapi terlihat tampak 'ramah' dengan dibubuhi asap yang keluar membumbung vertikal berbentuk corong. Mulai dari timur jembatan kali kuning sampai ke daerah Tlogo putri pun tak luput dari tempat hunting foto kali ini. Apes, itulah yang terjadi oleh teman saya, sewaktu motornya ditinggal sebentar untuk mengambil gambar tiba-tiba ban terlihat kempes. Pikiran saya bertanya-tanya, mana ada bengkel atau tambal ban yang buka didaerah ini dan pada kondisi sekitar yang tampak sepi karena ditinggal untuk mengungsi. Malang sekali, baru setelah kurang lebih 3km kami menemukan bengkel yang buka.Sambil menunggu motor teman saya yang 'terluka' dengan 3 'tusukan' dan sedang 'dirawat' kami pun berinisiatif meninggalkan sebentar dan menuju ke lokasi daerah terkenanya awan panas. Sesampainya disana..we're so amazed. Daerah yang dulunya perkampungan dengan banyak rumah-rumah warga di sekitar berubah menjadi lapangan datar berwarna abu-abu putih. Saat kami datang masih terlihat ada api yang menyala, kami kira itu adalah efek dari awan panas yang masih tersisa. Namun api tersebut berasal dari gas elpiji yang meledak dan kami tidak berani untuk mendekat lebih jauh.
Masih terasa hangat saat kaki kami menginjak abu yang telah bercampur dengan material vulkanik pada saat itu. Daerah yang berjarak kurang lebih 1 km dari kali gendol ini tersapu awan panas yang meluncur 17km dari puncak merapi. Banyak yang menjadi korban karena luncuran pada 4-5 November ini. Mereka tampaknya kurang waspada dan tidak menyangka bahwa perkampungan mereka akan terkena dampak dari letusan merapi. Sebelum kejadian ini, zona aman telah diperluas menjadi 15 km dari puncak merapi, namun karena kecanggihan alat juga tak mampu untuk mendeteksi gejala-gejala alam dan tanda-tanda yang akan dikeluarkan, akhirnya takdirpun yang akan berkata. Semua ini datangnya dari Allah semata, berupa ujian dan cobaan yang diberikan bertubi-tubi agar kita sadar dan tetap harus sabar menerima semua ini. Banyak keluarga dan rekan-rekan yang menjadi korban, namun semangat para relawan yang membantu dapat mengurangi beban mereka yang tertahan. Jogja 13 November. Rizky Cahya Darmawan.

No comments:
Post a Comment